- Home
- Konsultasi 18+
- Jangan Asal Konsumsi, Makanan Cepat Saji Berisiko Turunkan Kesuburan Pria
Edukasi Seksual Masyarakat
Jangan Asal Konsumsi, Makanan Cepat Saji Berisiko Turunkan Kesuburan Pria
Penelitian ini juga meneliti hormon para peserta dan menemukan bahwa pria dengan diet Barat cenderung memiliki lebih sedikit sel Sertoli, yaitu sel yang berperan penting dalam produksi sperma. (Internet)
RSNEWSROOM - Pola makan ternyata tidak hanya berpengaruh pada kesehatan jantung dan berat badan, tetapi juga pada kesuburan pria. Sebuah studi terbaru yang dipimpin oleh peneliti dari Universitas Harvard menemukan pria muda yang sering mengonsumsi makanan cepat saji ala Barat (Western diet) cenderung memiliki jumlah sperma yang lebih rendah dan mengancam kesuburan.
Diet Barat yang dimaksud mencakup makanan tinggi lemak dan olahan, seperti pizza, kentang goreng, daging merah dalam jumlah besar, serta berbagai junk food.
Berbeda dengan diet Mediterania yang pada 2019 dinobatkan sebagai pola makan terbaik untuk kesehatan jantung, berat badan, dan umur panjang, diet Barat justru dikaitkan dengan dampak negatif bagi kesehatan reproduksi pria.
Penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Amerika Serikat dan Denmark ini menemukan bahwa pria muda yang sebagian besar mengonsumsi makanan olahan memiliki 25,6 juta sperma lebih sedikit per ejakulasi dibandingkan mereka yang menjalani pola makan seimbang dan berbasis nabati. Sebagai informasi, jumlah sperma rendah didefinisikan sebagai kurang dari 15 juta sperma per mililiter atau kurang dari 39 juta sperma per ejakulasi, seperti dilaporkan CNN.
“Temuan kami mendukung bukti yang terus berkembang bahwa mengikuti pola makan sehat, termasuk variasi lokalnya, berkaitan dengan jumlah sperma yang lebih tinggi dan indikator fungsi sperma yang lebih baik,” ujar para peneliti saat mempresentasikan hasil studi mereka dalam pertemuan tahunan European Society of Human Reproduction and Embryology (ESHRE) di Wina, Austria, dikutip dari laman Eco Watch.
Jumlah sperma yang rendah dapat menyulitkan pasangan untuk memiliki keturunan. Para peneliti juga menyoroti penurunan tingkat kesuburan yang terjadi dalam beberapa dekade terakhir dan menyebutnya sebagai sebuah 'krisis'.
Meski ada banyak faktor yang diduga berperan, studi ini menunjukkan bahwa pola makan kemungkinan menjadi salah satu penyebab penting. Penurunan hampir 60 persen tingkat kesuburan di negara-negara Barat sejak tahun 1970-andinilai sejalan dengan meningkatnya konsumsi makanan cepat saji dan olahan.
Dalam penelitian ini, para peneliti menganalisis data medis sekitar 3.000 pria yang akan mengikuti wajib militer di Denmark pada periode 2008–2017. Rata-rata usia peserta adalah 19 tahun.
Para peserta diminta mengisi kuesioner pola makan dan dikelompokkan ke dalam empat jenis diet yakni diet Barat (junk food tinggi lemak), diet Skandinavia (daging olahan, biji-bijian utuh, ikan, dan produk susu), diet vegetarian, serta diet 'prudent' yang terdiri dari daging tanpa lemak, buah, dan sayuran.
Hasilnya menunjukkan bahwa pria yang menjalani diet 'prudent' memiliki jumlah sperma tertinggi, disusul oleh kelompok vegetarian dan diet Skandinavia. Sementara itu, pria dengan diet Barat memiliki jumlah sperma paling rendah.
Banyak di antara mereka yang sudah memenuhi kriteria jumlah sperma rendah, meskipun secara biologis berada di usia puncak kesuburan.
Penelitian ini juga meneliti hormon para peserta dan menemukan bahwa pria dengan diet Barat cenderung memiliki lebih sedikit sel Sertoli, yaitu sel yang berperan penting dalam produksi sperma.
Jumlah sperma sebenarnya bisa meningkat dalam waktu dua hingga tiga bulan jika seseorang memperbaiki pola makannya. Namun, kerusakan pada sel Sertoli dikhawatirkan bersifat permanen.
“Kekhawatirannya adalah pola makan buruk di usia muda dapat menyebabkan perubahan yang menetap hingga dewasa." kata profesor Allan Pacey, ahli kesuburan pria dari University of Sheffield yang tidak terlibat dalam penelitian ini.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa studi ini masih belum dipublikasikan dalam jurnal ilmiah yang telah melalui proses peninjauan sejawat (peer-reviewed), sehingga temuan ini masih memerlukan penelitian lanjutan. (FSY/VOI)









