Gaya Hidup dengan Makanan Sehat

Pola Makan dan Cara Hidup Sehat Usai Lebaran, Ini Saran Dokter Gizi

Info Sehat Kamis, 02 April 2026 - 09:10 WIB  |    Reporter : FSY   Redaktur : FA Syam  
Pola Makan dan Cara Hidup Sehat Usai Lebaran, Ini Saran Dokter Gizi

Salah satu kunci utama dalam menjaga kesehatan setelah Lebaran adalah meningkatkan kesadaran terhadap kebutuhan tubuh, terutama dalam hal pola makan. (Foto Istimewa)

RSNEWSROOM - Setelah melewati momen Lebaran yang identik dengan hidangan bersantan, kue manis, dan jadwal makan yang tak menentu, banyak orang mulai merasakan perubahan pada tubuh seperti mudah lelah, gangguan pencernaan, hingga berat badan yang meningkat.

Hal ini sebenarnya wajar terjadi, namun juga menjadi tanda tubuh perlu kembali ke ritme yang lebih sehat.

Dalam acara Halalbihalal bertajuk “Better Tomorrow Starts Today: Feel Good, Stay Healthy, Be Protected” yang diadakan Sequis Life, pesan tentang pentingnya menjaga keseimbangan kesehatan dan kehidupan kembali digaungkan.

Iklan PC dalam Pahlawan Guru

Momen pasca-Lebaran dinilai sebagai waktu yang tepat untuk memulai kembali kebiasaan baik yang sempat terabaikan.

Salah satu kunci utama dalam menjaga kesehatan setelah Lebaran adalah meningkatkan kesadaran terhadap kebutuhan tubuh, terutama dalam hal pola makan.

Dokter Spesialis Gizi Klinik RSPI – Pondok Indah, dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.G.K., menekankan pentingnya mengenali sinyal tubuh melalui konsep mindful eating.

MBG dalam Berita 2

Ia menjelaskan setiap orang perlu lebih peka terhadap rasa lapar yang sebenarnya, bukan sekadar keinginan makan.

“Saya mau kita lebih aware dengan sinyal tubuh. Jadi, ada konsep yang namanya mindful eating sebetulnya. Kita bisa mengenali kapan harus makan sebetulnya. Kita membagi skalanya itu 1 sampai 10," ucap dr. Juwalita saat ditemui di Ramela Resto, Jakarta Selatan pada Selasa, 31 Maret 2026.

"Kalau skala satu, orang itu lapar berat, sudah tidak punya energi lagi, lemah, lapar ekstrem. Jadi, selalu sediakan waktu untuk menilai diri kita ada di level yang mana,” ujarnya.

dr. Juwalita mengingatkan agar tidak mengabaikan sinyal tubuh karena dapat memicu makan berlebihan. Menurutnya, penting untuk bisa membedakan antara lapar fisik dan sekadar keinginan (craving).

“Kalau lapar beneran, ada tanda fisiknya seperti pusing atau perut keroncongan. Bisanya ditawari makanan apa pun akan mau. Tapi kalau craving, sifatnya spesifik. Misalnya hanya ingin makanan manis, ditawari yang lain tidak mau. Jadi yang harus kita kendalikan adalah ini lapar beneran atau craving?" jelasnya

Selain itu, pola makan yang seimbang juga perlu kembali diterapkan setelah periode Ramadan. Ia menekankan pentingnya komposisi makanan dalam satu piring.

“Sekarang kita rebalance. Dalam satu kali makan, piring kita harus ada karbohidrat, protein, sayur, dan buah. Protein penting karena membuat kenyang lebih lama. Kalau kebanyakan karbohidrat, biasanya satu jam kemudian sudah lapar lagi. Serat dari sayur membantu menstabilkan gula darah dan menjaga kesehatan pencernaan,” paparnya.

Tak hanya soal makan, pola tidur juga menjadi faktor penting yang sering terabaikan. Perubahan jam tidur selama Ramadan dapat berdampak pada hormon tubuh.

“Balik ke pola tidur sebelumnya supaya keseimbangan hormon kembali. Kurang tidur itu meningkatkan hormon ghrelin yang memicu rasa lapar. Jadi, kalau kurang tidur, biasanya kita akan lebih lapar keesokan harinya,” tambahnya.

dr. Juwalita juga menyoroti pentingnya konsistensi dalam menjalani gaya hidup sehat, termasuk olahraga dan kebiasaan makan.

“Jangan didikitin banget makannya, tapi dibuat lebih seimbang. Ingat konsistensi itu lebih penting daripada intensitas. Mulai bertahap, tapi dilakukan terus-menerus,” pungkasnya.

dr. Juwalita menjelaskan waktu makan juga berpengaruh terhadap metabolisme tubuh.

“Ternyata bukan hanya apa yang kita makan, tapi kapan kita makan juga menentukan kesehatan metabolik. Tubuh paling siap mengolah makanan di pagi hari. Makan siang itu utama sebagai sumber energi. Malam hari sebaiknya hindari makan berat karena metabolisme melambat,” jelasnya.

Menutup pemaparannya, dr. Juwalita mengingatkan pentingnya pemulihan pasca-Lebaran secara menyeluruh.

“Setelah Lebaran ini, kita reset lagi. Kembali ke pola makan normal, rebalance nutrisi, cukup hidrasi, tidur cukup, dan mulai lagi aktivitas fisik secara bertahap. Perubahan kecil tapi konsisten itu yang akan memberikan hasil jangka panjang,” tutupnya.

Sejalan dengan itu, PT Asuransi Jiwa Sequis Life juga mengajak masyarakat untuk tidak hanya melakukan reset kesehatan, tetapi juga finansial. Pasca periode konsumtif selama Ramadan dan libur Lebaran, penting untuk kembali menata prioritas hidup.

Chief of Human Resources & Corporate Services Sequis Life, Agustina Samara, menyampaikan bahwa konsep feel good tak hanya berkaitan dengan perasaan, tetapi juga kondisi yang menyeluruh.

“Feel Good bukan sekadar suasana hati, tetapi rasa tenang karena kondisi keuangan terkendali dan kesehatan terjaga. Ini adalah bentuk tanggung jawab kita terhadap keluarga sebagai #YangPalingBerarti dalam hidup,” ujar Tina.

Tina menambahkan gaya hidup sehat perlu berjalan beriringan dengan perencanaan keuangan yang disiplin.

“Kesehatan dan finansial harus seimbang. Pola hidup sehat perlu dilengkapi proteksi, sementara proteksi tanpa disiplin finansial tidak akan optimal." jelasnya.

asca-Lebaran bukan hanya tentang kembali ke rutinitas, tetapi juga kesempatan untuk memulai ulang. Hal ini membuat tubuh semakin sehat dan lebih siap menghadapi hari esok dengan kondisi lebih baik. (FSY/VOI)

Laporan : FSY
Redaktur : FA Syam





Berita Lainnya