- Home
- Info Sehat
- Asam Lambung Sering Naik, Ini Cara Menekan Gangguan Pencernaan Kronis
Sering Dikeluhkan Masyarakat
Asam Lambung Sering Naik, Ini Cara Menekan Gangguan Pencernaan Kronis
Pola makan tidak teratur, stres berkepanjangan, kebiasaan merokok, serta minimnya aktivitas fisik membuat keluhan asam lambung naik kian mudah muncul dan berpotensi memburuk jika tidak dikelola dengan baik. (Internet)
RSNEWSROOM - Gastroesophageal Reflux Disease (Gerd) menjadi salah satu gangguan pencernaan yang semakin sering dialami masyarakat, termasuk di usia muda.
Pola makan tidak teratur, stres berkepanjangan, kebiasaan merokok, serta minimnya aktivitas fisik membuat keluhan asam lambung naik kian mudah muncul dan berpotensi memburuk jika tidak dikelola dengan baik.
Kondisi ini menegaskan pentingnya perubahan gaya hidup sejak dini untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof Dr dr Rino Alvani Gani Sp.PD K-GEH, mengatakan bahwa penerapan gaya hidup sehat atau healthy lifestyle pada anak muda dapat membantu mengurangi tingkat keparahan Gastroesophageal Reflux Disease (Gerd).
“Cara menguranginya adalah healthy-life style, tidak merokok, berolahraga, makan teratur, tidak gemuk, kelola stress dengan baik,” kata Prof. Rino seperti dikutip ANTARA.
GERD sendiri merupakan gangguan pencernaan kronis yang terjadi ketika asam lambung naik kembali ke kerongkongan (esofagus) secara berulang. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat menimbulkan rasa tidak nyaman hingga menimbulkan kerusakan pada saluran cerna bagian atas.
Menurut Rino, banyak anak muda saat ini belum menerapkan pola hidup sehat, sehingga rentan mengalami berbagai masalah kesehatan sejak usia dini, termasuk Gerd. Kebiasaan kurang bergerak, pola makan yang tidak teratur, serta konsumsi makanan yang tidak sehat menjadi faktor yang sering ditemui.
Ia menambahkan, tidak sedikit anak muda yang mengalami kelebihan berat badan akibat jarang berolahraga, menjadi perokok aktif, serta mengabaikan jam makan. Kombinasi faktor tersebut dapat memperburuk gejala Gerd yang dialami.
Padahal, dengan menerapkan gaya hidup sehat, risiko keparahan Gerd dapat ditekan sehingga tidak berkembang menjadi peradangan pada saluran cerna atas. Jika dibiarkan, kondisi tersebut berpotensi merusak kerongkongan dan menimbulkan keluhan nyeri di dada.
Rino menjelaskan, Gerd yang tidak terkontrol juga dapat memicu berbagai gangguan kesehatan lain, mulai dari batuk berkepanjangan hingga keluhan pusing.
“Gerd bisa menimbulkan rasa sakit atau panas di dada, dapat menimbulkan peradangan saluran cerna atas, dapat menyebabkan sulit menelan karena seperti ada gumpalan di tenggorokan, dapat memicu asma atau batuk-batuk lama, dapat timbul rasa pusing,” katanya.
Meski demikian, Rino menegaskan bahwa Gerd bukanlah penyebab langsung kematian atau kematian mendadak. Namun, kondisi ini tetap perlu mendapat perhatian serius agar tidak berkembang menjadi komplikasi yang lebih berat.
Ia juga menyoroti pengelolaan stres yang buruk sebagai salah satu faktor yang dapat memperparah GERD. Stres berlebihan dapat memicu kekambuhan gejala, bahkan menyebabkan jantung berdebar yang menambah rasa tidak nyaman pada penderita.
Dalam kondisi tertentu, Gerd dapat berkembang menjadi komplikasi serius, seperti peradangan kronis pada kerongkongan, peningkatan risiko kanker esofagus, hingga pneumonia aspirasi ketika asam lambung masuk ke paru-paru. Oleh karena itu, perubahan gaya hidup sehat menjadi langkah penting dalam pengendalian Gerd sejak dini. (FSY/ANT)






