Seputar Makanan Harian

Ahli Gizi Peringatkan Risiko Kesehatan, Jika Sering Makan Mie Campur Nasi

Info Sehat Rabu, 20 Agustus 2025 - 10:54 WIB  |    Reporter : FSY   Redaktur : FA Syam  
Ahli Gizi Peringatkan Risiko Kesehatan, Jika Sering Makan Mie Campur Nasi

Risiko kesehatan yang perlu diperhatikan apabila kebiasaan ini dilakukan secara rutin tanpa pengaturan gizi yang tepat. (Internet)

RSNEWS - Di Pekanbaru, Riau, ada namanya menu Minas (Mie-Nasi). Mengkombinasikan mie dan nasi dalam satu piring merupakan kebiasaan makan yang umum dijumpai di berbagai daerah di Indonesia. Selain karena mengenyangkan, perpaduan dua sumber karbohidrat ini memang memberikan cita rasa yang khas dan memuaskan bagi sebagian besar masyarakat.

Namun, di balik kenikmatan tersebut, terdapat risiko kesehatan yang perlu diperhatikan apabila kebiasaan ini dilakukan secara rutin tanpa pengaturan gizi yang tepat.

Dosen bidang gizi dari Sekolah Vokasi IPB University, Rosyda Dianah, SKM, MKM, mengingatkan konsumsi nasi dan mi secara bersamaan memiliki dampak jangka panjang terhadap keseimbangan gizi dan kesehatan metabolik.

Iklan PC dalam Pahlawan Guru

“Kombinasi ini berisiko menimbulkan ketidakseimbangan gizi dan berbagai gangguan kesehatan jika tidak diimbangi dengan asupan gizi lain,”ungkapnya, dikutip dari laman IPB University.

Rosyda menjelaskan baik nasi maupun mi merupakan sumber utama karbohidrat. Ketika keduanya dikonsumsi dalam satu waktu, jumlah karbohidrat yang masuk ke dalam tubuh meningkat secara signifikan, sementara zat gizi lain seperti protein dan lemak sehat justru cenderung terabaikan.

“Jika nasi dan mi dikonsumsi dalam jumlah yang sama banyak, kandungan karbohidratnya bisa mendominasi hingga 80 persen dari total energi, sedangkan protein dan lemak sangat rendah,” jelasnya.

MBG dalam Berita 2

Sebagai ilustrasi, konsumsi 150 gram nasi dan 100 gram mi menghasilkan sekitar 401 kilokalori energi, dengan kandungan sekitar 82 gram karbohidrat, 7 gram protein, dan hanya 2 gram lemak.

Rasio ini menunjukkan ketidakseimbangan zat gizi makro, jauh dari standar rekomendasi pedoman Isi Piringku, yang menekankan pentingnya variasi dan proporsi ideal dalam setiap porsi makan.

“Kandungan ini tidak seimbang dan jauh dari konsep ‘Isi Piringku’, yakni 50 persen sayur dan buah, serta 50 persen sisanya gabungan karbohidrat dan protein,” lanjut Rosyda.

‘’Konsep Isi Piring Ku’’ merupakan penyempurnaan dari pedoman gizi sebelumnya, yaitu 4 Sehat 5 Sempurna dan Pedoman Gizi Seimbang.

Tujuannya adalah memberikan panduan visual yang mudah dipahami mengenai komposisi makanan sehat dalam setiap piring, berdasarkan kebutuhan gizi masyarakat Indonesia.

Rosyda memaparkan konsumsi mi dan nasi secara bersamaan dalam jangka panjang dapat memicu gangguan metabolik, termasuk obesitas, resistensi insulin, dislipidemia (ketidakseimbangan lemak darah), hingga inflamasi kronis.

“Kelebihan karbohidrat sederhana dari nasi putih dan mi instan dapat meningkatkan indeks glikemik dan mempercepat lonjakan gula darah. Jika tidak dibarengi asupan protein dan serat yang cukup, efeknya bisa jangka panjang,” terangnya.

Kekurangan asupan protein dan lemak sehat dalam pola makan juga dapat mengganggu produksi hormon pengatur nafsu makan, seperti leptin dan peptida YY.

Hormon-hormon ini berperan dalam memberikan sinyal kenyang kepada otak. Ketika produksinya menurun, seseorang menjadi lebih mudah lapar dan terdorong untuk makan berlebih, terutama dari sumber karbohidrat sederhana.

“Dampaknya, rasa lapar berulang, mengarah pada konsumsi kalori berlebih (overeating), terutama dari sumber karbohidrat sederhana,”

imbuhnya.

Untuk mengurangi risiko dari konsumsi karbohidrat berlebih, Rosyda menyarankan beberapa alternatif menu sehat yang tetap mengenyangkan namun lebih seimbang secara gizi, seperti:

 Nasi setengah porsi yang dikombinasikan dengan lauk hewani (seperti ikan atau ayam), lauk nabati (seperti tempe atau tahu), serta sayuran.

- Ubi rebus sebagai pengganti nasi, dipadukan dengan sumber protein dan sayuran segar.

- Mi rendah karbohidrat seperti mi shirataki, ditambah dengan protein dan sayuran.

“Prinsipnya adalah menyeimbangkan piring makan sesuai dengan pedoman Isi Piringku. Pastikan karbohidrat tidak lebih dari seperempat bagian piring dan lengkapi dengan protein, lemak sehat, serta serat dari sayuran dan buah." tutup Rosyda. (FSY/VOI)

 

Laporan : FSY
Redaktur : FA Syam





Berita Lainnya