- Home
- Info Sehat
- Risau Daging Kambing Picu Hipertensi, Ini Penjelasan Ahli Gizi IPB
Kata Ahli Makanan Sehat
Risau Daging Kambing Picu Hipertensi, Ini Penjelasan Ahli Gizi IPB
Jika dilihat dari sudut pandang ilmu gizi dan cara pengolahan tepat, daging kambing justru bisa menjadi bagian dari pola makan yang sehat dan seimbang. (Foto Istimewa)
RSNEWSROOM - Banyak orang masih ragu mengonsumsi daging kambing karena berbagai anggapan yang beredar di masyarakat, mulai dari isu kolesterol hingga tekanan darah tinggi. Jika dilihat dari sudut pandang ilmu gizi dan cara pengolahan tepat, daging kambing justru bisa menjadi bagian dari pola makan yang sehat dan seimbang. Kuncinya bukan sekadar pada jenis dagingnya, tetapi porsi, cara memasak, serta kombinasi makanan yang menyertainya.
Daging kambing pada dasarnya aman dikonsumsi selama tidak dimakan secara berlebihan dan diolah dengan cara yang tepat. Hal ini disampaikan oleh Guru Besar Bidang Genetika dan Pemuliaan Ternak Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Ronny Rachman Noor. Ia menjelaskan keamanan konsumsi sangat dipengaruhi oleh cara memasak dan penyajiannya.
Ronny menyarankan agar konsumen lebih selektif dalam memilih potongan daging kambing, terutama dengan memperhatikan kadar lemaknya.
"Sebelum dimasak, dianjurkan untuk membuang lemak yang menempel pada daging guna memastikan kandungan lemak seminimal mungkin," katanya, dikutip dari laman resmi IPB.
Selain itu, proses pemberian bumbu juga perlu diperhatikan. Ia menganjurkan penggunaan rempah dan bumbu dengan kadar sodium yang rendah. Untuk teknik memasak, metode seperti memanggang, membakar, atau merebus dinilai lebih baik dibandingkan teknik lain yang menambah banyak lemak.
"Alangkah baiknya menghindari menggoreng daging kambing. Selain itu, gunakan resep yang memadukan daging kambing dengan sayuran dan biji-bijian utuh agar gizi yang dihasilkan lebih seimbang," tambahnya.
Di masyarakat, daging kambing sering dicap sebagai makanan yang bersifat panas dan disebut-sebut sebagai penyebab tekanan darah tinggi. Menurut Ronny, anggapan tersebut lebih banyak bertumpu pada kepercayaan turun-temurun daripada bukti ilmiah yang kuat.
Tak sedikit orang yang akhirnya menghindari daging kambing karena aroma dan rasanya yang khas, ditambah kekhawatiran terhadap dampaknya bagi kesehatan. Padahal secara ilmiah, seperti halnya daging merah lain, daging kambing bukanlah penyebab langsung hipertensi.
Risiko kesehatan lebih sering muncul akibat cara pengolahan dan kebiasaan mengonsumsinya. Pola makan yang tinggi lemak, garam, serta porsi berlebihan jauh lebih berpengaruh terhadap tekanan darah dibandingkan jenis dagingnya semata.
Kualitas gizi daging juga dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk jenis ternak, genetik, dan sistem pemeliharaannya. Misalnya, kambing yang dipelihara dengan sistem penggembalaan cenderung menghasilkan daging dengan kadar lemak jenuh dan kolesterol lebih rendah dibandingkan ternak dari sistem penggemukan intensif.
Dari sisi nutrisi, daging kambing yang juga dikenal dengan istilah chevon, tergolong pilihan daging merah yang lebih baik. Kandungan lemaknya relatif lebih rendah, proteinnya lebih padat, serta profil kolesterolnya lebih baik dibandingkan daging sapi maupun domba.
Chevon juga memiliki kadar lemak jenuh yang lebih sedikit dibandingkan banyak jenis daging merah lain, sehingga dapat membantu menjaga kesehatan jantung. Selain itu, daging kambing merupakan sumber zat besi dan protein yang penting untuk menunjang fungsi tubuh secara menyeluruh.
Ronny mengakui daging kambing tetap mengandung kolesterol, namun jumlahnya tergolong sedang. Bahkan kadarnya lebih rendah dibandingkan kolesterol pada daging sapi dan domba.
“Jadi jika daging kambing dikonsumsi secara tidak berlebihan, tidak akan meningkatkan tekanan darah dan kadar kolesterol secara drastis,” ujar Ronny.
Sejumlah penelitian menunjukkan dalam pola makan yang seimbang dan tidak berlebihan, konsumsi daging kambing tidak terbukti memperburuk tekanan darah maupun profil lemak pada individu dengan hipertensi ringan.
Penelitian tersebut juga menekankan penderita hipertensi sebaiknya membatasi asupan daging merah, terutama produk olahan yang tinggi lemak jenuh. Daging kambing yang diolah dengan cara sehat dan rendah lemak dapat menjadi pilihan yang lebih baik dibandingkan beberapa jenis daging merah lainnya.
Saat membahas risiko hipertensi, penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa teknik memasak dan penyajian memiliki pengaruh besar terhadap dampak kesehatannya.
“Menggoreng atau memasak dengan garam, mentega, atau saus berlemak yang berlebihan dapat mengubah daging yang sehat menjadi bahan makanan yang berisiko hipertensi,” ucap Ronny.
Selain metode memasak, ukuran porsi juga tidak kalah penting. Konsumsi daging merah secara berlebihan, termasuk daging kambing, dapat meningkatkan beban kerja sistem kardiovaskular.
Kebutuhan dan batas aman konsumsi daging merah sangat bergantung pada kondisi kesehatan masing-masing orang. Individu dengan hipertensi atau gangguan jantung dan pembuluh darah perlu lebih cermat dalam mengatur asupan daging merah, termasuk daging kambing. (FSY/VOI)







