Provinsi Riau
Heboh Laporan Polisi Plt Kadiskes Riau, Gubernur Telusuri Dugaan Kasus Pengancaman dan Pengerusakan
Gubernur Riau Abdul Wahid (Foto Istimewa)
RSNEWSROOM - Sempat viral dalam beberapa hari terakhir. Gubernur Riau Abdul Wahid akan memanggil Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Riau, Ns Widodo, usai munculnya dugaan kasus pengancaman dan perusakan rumah yang menyeret namanya.
"Nanti akan kita panggil (Ns Widodo). Kita tanyakan apa permasalahannya," ujar Abdul Wahid kepada wartawan, Rabu (15/10/2025).
Menurut Wahid, penanganan awal kasus ini telah diserahkan kepada Sekdaprov Riau Syahrial Abdi untuk ditindaklanjuti sesuai mekanisme internal pemerintah provinsi.
"Kami minta agar semua proses berjalan profesional dan proporsional," tegasnya.
Sebelumnya, Ns Widodo dilaporkan ke Polresta Pekanbaru oleh seorang warga bernama Farhan, atas dugaan pengancaman dan perusakan rumah. Laporan tersebut tercatat dengan nomor STPL/811/X/2025/Polresta Pekanbaru, tertanggal 8 Oktober 2025 pukul 23.30 WIB.
Peristiwa itu disebut terjadi pada 4 April 2025 malam di Perumahan Dagang Square, Kelurahan Kampung Tengah, Kecamatan Sukajadi, Pekanbaru.
Widodo diduga datang ke rumah ayah Farhan dan melakukan perusakan serta ancaman menggunakan pisau putih.
Namun, Widodo membantah tuduhan tersebut dan menilai laporan itu sarat muatan politik. Ia menegaskan siap menempuh jalur hukum bila laporan tersebut terbukti tidak benar.
"Saya tidak mempermasalahkan adanya laporan. Tapi kalau laporan itu tidak benar, tentu saya akan mempertimbangkan melakukan laporan balik," kata Widodo.
Widodo juga menyoroti kejanggalan dalam laporan itu. Menurutnya, peristiwa yang disebut terjadi pada April 2025, sedangkan ia baru dilantik sebagai Plt Kadiskes Riau pada 19 September 2025.
"Artinya peristiwa itu tidak ada kaitannya dengan jabatan saya. Tuduhan ini sarat nuansa politik dan merugikan nama baik saya, apalagi saya sedang ikut proses assessment pejabat pratama," jelasnya.
Plt Kadiskes Riau Bantah
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Provinsi Riau, Widodo, akhirnya buka suara soal laporan dugaan pengancaman dan perusakan terhadap dirinya di Polresta Pekanbaru. Ia menegaskan tuduhan itu tidak benar dan menilai laporan tersebut sarat muatan politik.
Dalam konferensi pers di Pekanbaru, Selasa sore, Widodo mengatakan bahwa dirinya menghormati hak warga untuk membuat laporan polisi, namun menegaskan siap mengambil langkah hukum jika laporan itu terbukti tidak berdasar.
"Saya tidak mempermasalahkan adanya laporan. Tapi kalau laporan itu tidak benar, tentu saya akan mempertimbangkan melakukan laporan balik," kata Widodo.
Widodo menilai pemberitaan yang beredar sangat tidak berdasar. Ia menyoroti kejanggalan dalam laporan, sebab peristiwa yang disebut terjadi 4 April 2025, sedangkan ia baru dilantik sebagai Plt Kadiskes Riau pada 19 September 2025.
"Artinya, peristiwa yang dimaksud tidak ada kaitannya dengan jabatan saya. Tuduhan ini sarat nuansa politik dan merugikan nama baik saya, apalagi saat ini saya tengah mengikuti proses assessment Pejabat Pratama Pemprov Riau," jelasnya.
Widodo juga menyebut menerima pesan WhatsApp dari Dr. Sabarno Dwi Riyanto, ayah pelapor, pada 9 Oktober 2025 yang meminta agar persoalan tersebut tidak dipublikasikan. Ia menilai munculnya laporan dan pemberitaan belakangan ini telah dirancang pihak keluarga pelapor.
Selain itu, ia mempertanyakan waktu pelaporan yang baru dibuat tujuh bulan setelah kejadian disebut terjadi.
"Kalau peristiwa itu benar, mengapa baru dilaporkan sekarang? Ini semakin memperkuat dugaan saya bahwa laporan tersebut untuk membunuh karakter saya," ujarnya.
Lebih lanjut, Widodo menuturkan bahwa Farhan, pelapor dalam kasus ini, saat ini sedang ditahan di Polresta Pekanbaru atas dugaan tindak pidana lain yang melibatkan keluarganya.
"Saya tegaskan, saya tidak pernah melakukan pengancaman atau perusakan seperti yang dituduhkan," ucapnya.
Meski begitu, Widodo mengaku masih membuka ruang damai jika pihak pelapor bersedia menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan.
"Pintu damai masih terbuka. Kalau mereka tidak melanjutkan, kami siap damai," tutupnya. (FSY/SP)









