Kekerasan di Kalangan Pelajar
Diduga Korban Korban Bullying Pelaku Ledakan SMAN 72 Jakarta, Psikolog: Ada Akumulasi Luka Emosional
Psikolog klinis menjelaskan tindakan balas dendam pada korban bullying bukan muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi luka emosional yang tidak mendapatkan penanganan. (Internet)
RSNEWSROOM – Viral beberapa pekan lalu. Peristiwa ledakan yang terjadi di Masjid SMAN 72 Kelapa Gading pada Jumat, 7 November 2025 lalu, menyisakan duka mendalam bagi lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Masjid tersebut diketahui merupakan fasilitas internal sekolah yang hanya digunakan untuk kegiatan ibadah para siswa dan guru, bukan untuk masyarakat umum.Saksi berinisial ER (25) menjelaskan masjid tersebut adalah area tertutup.
“Masjid itu khusus untuk ibadah para pelajar, bukan untuk masyarakat umum,” ujarnya kepada media.
Berdasarkan informasi yang beredar, insiden tersebut didahului oleh dua suara ledakan yang menghasilkan asap tebal, masing-masing terjadi di area masjid dan pintu belakang sekolah. Dari lokasi, aparat menemukan bom rakitan, remote kontrol, hingga senjata laras panjang dan revolver.
Salah satu siswa yang enggan disebutkan namanya menyampaikan pelaku diduga merupakan siswa yang masih aktif di sekolah tersebut. Ia juga menyebutkan bahwa pelaku sebelumnya mengalami bullying atau perundungan.
“Pelakunya diduga siswa juga. Dia korban bullying. Mungkin mau balas dendam dan juga ingin bunuh diri,” ungkapnya.
Sementara itu, salah satu guru memperkirakan korban luka akibat ledakan berjumlah antara lima hingga sepuluh orang tanpa adanya korban jiwa.
Psikolog klinis Devi Yanti, M. Psi menjelaskan tindakan balas dendam pada korban bullying bukan muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi luka emosional yang tidak mendapatkan penanganan.
Menurut Devi, ada beberapa faktor psikologis yang dapat mendorong korban bullying melakukan tindakan ekstrem. Menurutnya, respon terhadap emosi yang tidak tertangani menyebabkan penumpukan emosi negatif seperti sedih, marah, sakit hati, dan rasa tidak berdaya yang tidak pernah dikelola.
“Korban sering merasa dirinya lemah. Dengan melakukan tindakan agresif, ia sedang berusaha mengubah posisi dari yang tertindas menjadi yang berkuasa',” ucapnya saat dihubungi VOI pada Jumat, 7 November 2025.
Lalu dorongan untuk menghilangkan rasa malu dan penghinaan. Malu yang tidak ditangani dapat berubah menjadi kemarahan, lalu agresif.
“Ketika tidak ada yang membela, mendengar, atau memvalidasi rasa sakitnya, korban merasa sendirian. Itu berbahaya.” ucapnya.
Selain itu, biasanya mereka sulit mengatur emosi. Gangguan psikologis akibat bullying seperti depresi, cemas hingga pikiran bunuh diri.
"Hambatan kognitif karena kemarahan, yang membuat korban berpikir bahwa 'Mereka pantas mendapatkan balasan'. Selain itu, kebutuhan untuk diakui rasa sakitnya," jelasnya.
Tak hanya itu, pengaruh media sosial, terutama konten kekerasan atau glorifikasi balas dendam.
“Secara psikologis, tindakan seperti ini adalah coping yang maladaptif. Ia mencoba menyembuhkan diri, tetapi dengan cara yang salah karena luka emosionalnya tidak pernah ditangani," tuturnya.
Devi menekankan bahwa peran sekolah, keluarga, dan lingkungan sangat penting dalam mencegah kasus seperti ini terulang. Pencegahan berfokus pada penyembuhan luka emosional, bukan hanya menghentikan tindakan bullying secara fisik.
"Dendam muncul karena luka yang tidak disembuhkan. Luka harus diobati, bukan diabaikan," katanya.
Baginya dendam akan mereda ketika korban merasa aman, didengar, dan diakui.Korban perlu diajarkan untuk bercerita kepada orang yang dipercaya.
"Identifikasi kebutuhan psikologis korban, apakah ia butuh dihargai, didukung, atau merasa aman. Lakukan reframing pengalaman bullying, agar korban tidak menilai dirinya sebagai pihak yang kalah atau tidak berharga," tuturnya.
Selain itu, ajarkan strategi mengelola emosi, misalnya mencari tempat aman, menghubungi orang terdekat, melakukan aktivitas penenang.Berikan ruang untuk proses memaafkan bukan untuk membenarkan pelaku, tetapi untuk membebaskan korban dari beban emosinya.
"Teknik relaksasi, grounding, journaling, aktivitas fisik, dan dukungan sosial sangat membantu meredakan kemarahan. Selain itu, konsultasi psikologis sangat penting.
“Intervensi seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) terbukti efektif mengurangi trauma maupun dorongan agresi," jelasnya
“Bullying bukan sekedar masalah sepele antar siswa. Ini adalah luka psikologis yang nyata. Jika tidak ditangani, dapat berubah menjadi tragedi,” tutupnya. (FSY/VOI)






