- Home
- Pendidikan
- Prodi Kesehatan di Indonesia Masih Banyak Akreditasi C, Mengapa Begitu?
Info Pegruruan Tinggi
Prodi Kesehatan di Indonesia Masih Banyak Akreditasi C, Mengapa Begitu?
Pembahasan terus dilakukan guna menelaah dan meningkatkan akreditasi program studi kedokteran di kampus-kampus Indonesia. (Internet)
RSNEWS - Di tengah tuntutan akan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan setara di seluruh Indonesia, terdapat fakta bahwa masih banyak program studi (prodi) kesehatan berakreditasi C yang menimbulkan pertanyaan besar.
Ketua Pengurus Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan (LAM-PTKes), Prof. dr. Usman Chatib Warsa, Sp.MK., Ph.D, memberikan penjelasan lengkap mengenai situasi ini.
Menurut Prof. Usman, tantangan utama terletak pada belum meratanya kualitas pendidikan di seluruh prodi kesehatan. Ia menyebut bahwa dunia pendidikan kesehatan idealnya harus memiliki standar yang sama agar bisa dinilai secara adil, termasuk oleh lembaga internasional.
"Ini memang kerjaan masa depan kita, dunia itu harus punya standar yang sama, sehingga ada proses adanya lembaga internasional yang menilai. Tapi di Indonesia gradasinya masih umum, 26 (bidang kedokteran) unggul, terutama di kedokteran gigi," ungkap Prof. Usman, saat ditemui di kawasan Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa, (5/8/2025).
Itu artinya, hanya sebagian kecil prodi yang berhasil meraih predikat unggul, sedangkan sisanya masih berada pada tingkat baik atau cukup. Beberapa bidang seperti kebidanan dan keperawatan juga masih menunjukkan capaian akreditasi unggul yang rendah. Hal ini menjadi perhatian karena kedua bidang ini sangat penting dalam sistem pelayanan kesehatan Indonesia.
"Seingat saya, di kebidanan, di mana angka kelahiran dan angka kematian itu tinggi, kecil penilaian dalam keunggulan. Tadinya 9%, cuma sekarang saya lihat ada kenaikan, hampir 12-13%, sama halnya dengan keperawatan," jelasnya.
LAM-PTKes saat ini tidak hanya berfokus pada penilaian, tetapi juga pada pembinaan dan pendampingan prodi. Upaya ini dilakukan untuk mempercepat perbaikan mutu pendidikan.
"Sekarang modelnya beda, bukan cuma penilaian. Sekarang mari bersama-sama lihat apa yang mereka punya, apa yang tidak punya, mari kita lakukan secara grup dan dorong," katanya.
"Saya lihat harus ada pelatihan khusus, sama dengan kami, dilihat dari internasional dikasih pelatihan," lanjutnya.
Untuk meningkatkan akreditasi, kualitas dosen dan asesor menjadi aspek penting. LAM-PTKes mendorong adanya peningkatan kompetensi secara menyeluruh.
"Kita mengharapkan LAM bisa memberikan bantuan terhadap asesor, dosen harus ditingkatkan. LAM bukan hanya menilai, tapi mendorong mereka lewat fasilitas dan pelatihan," ujar Prof. Usman.
LAM-PTKes menargetkan minimal 25% program studi kesehatan bisa meraih akreditasi unggul. Bahkan, di masa depan diharapkan jumlah ini bisa mencapai 50%.
"Sama mentargetkan LAM akreditasinya diunggulkan. Minimal 25%, nantinya bisa 50%, caranya gimana? Sekarang kita aktif, salah satunya tanyakan prodi apakah ada masalah dibutuhkan. Asesor jangan membeda-bedakan dan ayo mari kita latih,” katanya.
Visi jangka panjang dari LAM-PTKes adalah mewujudkan pelayanan kesehatan yang merata dan berkualitas tinggi di tahun 2045, bertepatan dengan 100 tahun Indonesia merdeka.
"Tahun 2045, 100 tahun Indonesia, kesehatan tidak ada yang jelek. Pelayanan kesehatan harus sama bagus. Enggak bisa melahirkan beda-beda dan hasilnya berbeda-beda,” tegasnya.
"Sehingga harus sesuai standarisasi dan push mereka agar bisa unggul di kemudian hari," lanjutnya.
Terakhir, Prof. Usman menekankan pentingnya pembinaan yang adil bagi semua prodi, agar mereka tidak merasa hanya dinilai tanpa dibantu berkembang.
"Jangan sampai mereka merasa bayar tapi tidak dibina. Kita juga dibina, lapor apa saja diperbaiki. Bukan hanya membantu kasih angka nilai besar," tutupnya. (FSY/VOI)






