- Home
- Konsultasi 18+
- Ahli Ungkap Frekuensi Bercinta Ideal untuk Bahagiakan Pasangan
Edukasi Seksual Pasutri
Ahli Ungkap Frekuensi Bercinta Ideal untuk Bahagiakan Pasangan
Hubungan seksual dapat menjadi salah satu cara alami untuk menjaga kesehatan mental, selama dilakukan secara sehat dan saling menghargai. (Internet)
RSNEWSROOM - Menjaga kesehatan mental ternyata tidak selalu harus dilakukan melalui meditasi, olahraga berat, atau sesi terapi. Para ilmuwan menyebut, ada satu aktivitas alami yang juga berperan besar dalam menjaga kestabilan suasana hati, yakni hubungan seksual.
Penelitian terbaru mengungkap adanya titik ideal dalam frekuensi berhubungan seks yang dapat membantu menurunkan risiko depresi. Artinya, berhubungan seks terlalu jarang atau terlalu sering belum tentu memberikan manfaat maksimal bagi kesehatan mental.
Selama ini, upaya meningkatkan kesehatan mental kerap dikaitkan dengan aktivitas seperti olahraga rutin, pola makan sehat, menghabiskan waktu di alam terbuka, hingga menjaga relasi sosial. Namun olahraga tidak selalu harus berupa lari di treadmill atau angkat beban. Berhubungan seks juga merupakan aktivitas fisik yang menyenangkan sekaligus menyehatkan.
Studi yang dilakukan oleh para ahli dari Shantou University Medical College, China, melibatkan 15.794 orang dewasa di Amerika Serikat berusia 20 hingga 59 tahun. Penelitian ini meneliti hubungan antara frekuensi aktivitas seksual dengan tingkat depresi yang diukur menggunakan kuesioner kesehatan mental PHQ-9.
Dalam laporan penelitian tersebut dijelaskan bahwa meskipun manfaat seks bagi kesehatan fisik sudah banyak dibahas, kaitannya dengan kesehatan psikologis masih relatif jarang diteliti. Para peneliti menduga bahwa frekuensi hubungan seksual yang rendah berkaitan dengan risiko depresi lebih tinggi.
Hasilnya cukup menarik. Frekuensi hubungan seksual yang dianggap paling ideal untuk menurunkan risiko depresi adalah satu hingga dua kali per minggu. Efek perlindungan ini paling jelas terlihat pada kelompok usia 20 hingga 30 tahun.
“Hubungan seksual satu sampai dua kali seminggu menunjukkan efek perlindungan terbesar terhadap kesejahteraan psikologis,” tulis tim peneliti dalam laporan mereka, seperti dilansir dari laman Unilad.
Para peneliti meyakini dampak positif seks terhadap kesehatan mental tidak lepas dari peran hormon. Saat berhubungan seks, tubuh melepaskan hormon seperti endorfin dan dopamin yang berfungsi menciptakan rasa bahagia, rileks, serta kepuasan emosional.
Penelitian ini juga menyebutkan frekuensi tersebut bahkan dapat dijadikan acuan tambahan dalam pemantauan kesehatan mental, khususnya pada individu yang sedang menjalani pengobatan depresi.
Salah satu penulis penelitian, Profesor Mutong Chen menegaskan manfaat ini berlaku luas.
“Terlepas dari orientasi seksual, aktivitas seksual dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan secara keseluruhan, yang pada akhirnya berdampak besar pada kesehatan mental,” ujar Chen.
Meski demikian, para ilmuwan menekankan penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memastikan hubungan sebab-akibat serta mengidentifikasi faktor lain yang mungkin memengaruhi hasil tersebut.
Dalam praktiknya, tidak semua pasangan suami istri mampu mempertahankan kehidupan seksual yang aktif. Seiring berjalannya waktu, gairah seksual dalam hubungan bisa saja menurun.
Pakar seks Tracey Cox mengungkapkan ada lima alasan utama mengapa pria cenderung kehilangan minat terhadap seks.
“Masalah ereksi, rasa tidak percaya diri terhadap tubuh, gangguan kesehatan mental seperti stres dan depresi, dorongan seksual yang rendah, serta trauma masa lalu menjadi penyebab paling umum,” jelas Cox.
Sementara itu pada perempuan, penurunan minat seksual sering kali dipicu oleh perubahan hormon, masalah dalam hubungan, serta kondisi kesehatan fisik tertentu.
Para ahli menegaskan seks bukan hanya soal seberapa sering dilakukan, melainkan juga soal kualitas hubungan, rasa aman, dan kenyamanan bersama pasangan.
Hubungan seksual dapat menjadi salah satu cara alami untuk menjaga kesehatan mental, selama dilakukan secara sehat dan saling menghargai.
Bagi pasangan suami istri yang bahagia, menjaga keintiman emosional dan komunikasi yang baik tetap menjadi kunci utama. Sementara frekuensi ideal satu hingga dua kali seminggu bisa menjadi panduan yang realistis dan menyehatkan. (FSY/VOI)






