- Home
- Konsultasi 18+
- Jarang Melakukan Hubungan Seksual, Bisa Timbulkan Dampak Emosional
Problematika Hubungan Pasutri
Jarang Melakukan Hubungan Seksual, Bisa Timbulkan Dampak Emosional
Dana menjelaskan terdapat sejumlah hal yang dapat memicu terhentinya hubungan seksual dalam pernikahan. Salah satu faktor paling umum adalah kelelahan akibat rutinitas harian. (Internet)
RSNEWSROOM – Ini perlu diperhatikan secara serius. Setelah fase bulan madu berlalu, dinamika hubungan suami istri sering kali mengalami perubahan, termasuk dalam hal keintiman seksual. Pada beberapa pasangan, intensitas hubungan seksual bisa menurun secara bertahap.
Namun dalam sejumlah kasus, hubungan justru dapat berjalan tanpa hubungan seksual sama sekali. Lalu, apa sebenarnya penyebab kondisi tersebut?
Menurut terapis pernikahan dan keluarga, dr. Dana McNeil, hubungan tanpa seks dapat memberikan dampak emosional bagi pasangan.
"Kehidupan suami istri tanpa seks itu bisa menyebabkan tekanan emosional, rasa tidak aman, atau rasa ketidakpuasan pada hubungan secara keseluruhan," ujarnya dikutip dari laman Bustle.
Istilah sexless relationship merujuk pada situasi ketika hubungan seksual antara pasangan sangat jarang terjadi atau bahkan berhenti sama sekali, dan kondisi ini biasanya menjadi sumber kegelisahan bagi salah satu atau kedua pihak. Bagi banyak orang, keintiman seksual adalah elemen penting dalam menjaga kualitas hubungan jangka panjang.
Namun masalah utama tidak semata-mata terletak pada seberapa sering pasangan berhubungan seksual. Kesalahpahaman dan ketidakmampuan mengungkapkan kebutuhan dan perasaan sering kali menjadi akar persoalan.
"Banyak pasangan suami istri dengan polosnya mencoba meminimalkan masalah atau mengabaikan masalah tersebut karena mereka tidak tahu cara menanganinya. Bahkan ada juga yang merasa malu. Itu bisa jadi bumerang," kata Dana.
Dana menjelaskan terdapat sejumlah hal yang dapat memicu terhentinya hubungan seksual dalam pernikahan. Salah satu faktor paling umum adalah kelelahan akibat rutinitas harian.
Aktivitas bekerja, mengurus keluarga, dan tanggung jawab lain dapat menguras energi sehingga mengurangi dorongan untuk berhubungan intim.
"Bagi sebagian orang, seks masuk dalam daftar aktivitas (to-do-list) yang membuat mereka berpikir bahwa melakukannya harus dengan totalitas. Sehingga keinginan tersebut seringkali menghilang setelah lelah bekerja atau beraktivitas," jelasnya.
Selain itu, konflik yang belum terselesaikan juga dapat merenggangkan kedekatan emosional dan fisik. Bahkan hal-hal sederhana seperti pembagian pekerjaan rumah tangga dapat menimbulkan jarak jika tidak dikelola dengan baik.
"Sehingga menarik diri dari keintiman dianggap bisa melindungi pasangan dan jadi cara untuk mengambil kembali kendali hubungan yang sedang tidak dalam situasi yang baik," tambahnya.
Faktor lain seperti kondisi kesehatan, efek obat tertentu, atau cedera fisik juga bisa memengaruhi hasrat seksual. Contohnya, beberapa obat antidepresan diketahui dapat menurunkan libido.
Kabar baiknya, hubungan tanpa seks bukanlah kondisi permanen. Untuk memperbaikinya, pasangan perlu memahami akar masalah dan bersedia melakukan komunikasi yang terbuka.
"Anda harus dapat mengidentifikasi keyakinan dan harapan seputar seks, juga peran yang Anda inginkan dalam hubungan. Mulailah dengan melakukan refleksi diri," ujar terapis pernikahan Lesli Doares.
Setelah mengetahui penyebabnya, cobalah untuk berdiskusi dengan pasangan secara jujur dan tidak menyalahkan. Sikap saling memahami sangat diperlukan agar komunikasi berlangsung efektif.
"Hal terpenting, terbukalah terhadap potensi perilaku Anda juga mungkin berkontribusi dalam masalah ini, dan cobalah untuk berempati dengan sudut pandang pasangan Anda. Ingat bahwa percakapan itu merupakan sesuatu yang jalan dua arah." tutur Lesli.
Dengan mendengarkan perasaan, kebutuhan, dan pandangan satu sama lain, pasangan dapat mencari solusi yang tepat dan membangun kembali keintiman yang mungkin sempat memudar. (FSY/VOI)









