- Home
- Info Sehat
- Ini Saat Garam Menjadi Berbahaya, Dokter Spesialis Jantung Beri Penjelasan
Jika Konsumsi Garam Berlebih
Ini Saat Garam Menjadi Berbahaya, Dokter Spesialis Jantung Beri Penjelasan
Kelebihan garam lebih mudah meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dibandingkan saat usia lebih muda. (Internet)
RSNEWSROOM - Selama bertahun-tahun, garam kerap diposisikan sebagai komponen yang harus dihindari dalam pola makan. Berbagai tren gaya hidup sehat dan anjuran medis sering menekankan pentingnya membatasi asupan garam demi menjaga kesehatan.
Namun, menurut dokter spesialis jantung dan transplantasi jantung, Dr. Dmitry Yaranov, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Ia menegaskan garam tidak selalu berbahaya, tetapi bisa menjadi masalah serius bagi individu dengan kondisi kesehatan tertentu. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui siapa saja yang memang perlu membatasi konsumsi natrium.
Ia menyebutkan bahwa pada tubuh tertentu, garam bukan sekadar penyedap rasa, melainkan dapat menjadi pemicu memburuknya penyakit.
Pada penderita gagal jantung, misalnya, asupan natrium yang berlebihan dapat menyebabkan penumpukan cairan di dalam tubuh. Kondisi ini memperparah gejala gagal jantung, meningkatkan risiko rawat inap berulang, dan dalam jangka panjang berkaitan dengan penurunan harapan hidup.
Kelompok berikutnya adalah pasien dengan hipertensi resisten, yaitu tekanan darah tinggi yang hanya bisa dikendalikan dengan tiga hingga empat jenis obat. Pada kondisi ini, konsumsi garam dapat memperparah tekanan darah dan menghambat efektivitas pengobatan. Menurut Yaranov, bagi pasien seperti ini, garam bukanlah zat netral, melainkan faktor yang memperburuk kondisi.
Pasien dengan penyakit ginjal kronis juga dianjurkan untuk mengurangi asupan garam. Natrium dapat mempercepat penurunan fungsi ginjal dan menyulitkan tubuh dalam mengatur keseimbangan cairan, sehingga kondisi ginjal semakin memburuk.
Selain itu, kelebihan garam dapat memperparah hipertensi portal, yaitu tekanan darah tinggi pada pembuluh vena portal akibat sirosis hati. Kondisi ini sering disertai asites atau penumpukan cairan di rongga perut, yang dapat semakin parah akibat retensi cairan dari konsumsi natrium berlebih.
Kelompok lain yang rentan adalah lansia dengan pembuluh darah yang sudah kaku. Seiring bertambahnya usia, elastisitas arteri menurun sehingga kemampuan tubuh mengelola natrium menjadi lebih terbatas. Akibatnya, kelebihan garam lebih mudah meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dibandingkan saat usia lebih muda.
Meski demikian, Yaranov menekankan bahwa pada individu dengan kondisi kesehatan normal, natrium memiliki peran penting bagi tubuh. Natrium dibutuhkan untuk transmisi sinyal saraf, kontraksi otot, menjaga keseimbangan cairan, serta membantu pengaturan tekanan darah.
Ia menegaskan yang perlu diperhatikan bukan sekadar menghindari garam, melainkan memahami kondisi tubuh masing-masing dalam merespons natrium.
Menurutnya, garam bukanlah musuh bagi semua orang. Natrium merupakan unsur esensial bagi kehidupan, dan yang kerap menjadi masalah adalah anjuran kesehatan yang terlalu menyederhanakan persoalan tanpa mempertimbangkan kondisi individu. (FSY/VOI)






