Kenali Gejalanya

Apa Itu Hiperhidrosis? Keringat Berlebih Bukan Tanda Penyakit Jantung

Info Sehat Rabu, 17 September 2025 - 11:45 WIB  |    Reporter : FSY   Redaktur : FA Syam  
Apa Itu Hiperhidrosis? Keringat Berlebih Bukan Tanda Penyakit Jantung

Hiperhidrosis adalah kondisi medis ketika seseorang mengeluarkan keringat berlebih tanpa dipicu aktivitas fisik atau suhu panas. (Internet)

RSNEWSROOM - Keringat merupakan mekanisme alami tubuh untuk menjaga suhu tetap stabil. Namun, pada sebagian orang, keringat keluar secara berlebihan meski tubuh tidak sedang membutuhkan pendinginan. Kondisi ini disebut hiperhidrosis. Meski tidak membahayakan, hiperhidrosis dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, menurunkan kualitas hidup, bahkan mengikis rasa percaya diri penderitanya.

Spesialis Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular Eka Hospital Cibubur, dr Stella Aprilia, menjelaskan hiperhidrosis adalah kondisi medis ketika seseorang mengeluarkan keringat berlebih tanpa dipicu aktivitas fisik atau suhu panas.

“Biasanya keringat berlebihan muncul di area tertentu seperti telapak tangan, telapak kaki, ketiak, maupun wajah,” kata dr Stella di Bogor, Selasa 16 September.

Iklan PC dalam Pahlawan Guru

Menurutnya, hiperhidrosis terbagi menjadi dua jenis. Pertama, hiperhidrosis primer yang umumnya muncul sejak masa kanak-kanak atau remaja. Penyebab pastinya belum diketahui, meski faktor genetik diduga berperan.

Kedua, hiperhidrosis sekunder yang dipicu penyakit lain seperti gangguan tiroid, diabetes, infeksi, maupun efek samping obat-obatan. Pada jenis ini, keringat berlebihan biasanya muncul di seluruh tubuh.

Pada hiperhidrosis primer, penyebab utamanya adalah aktivitas berlebihan sistem saraf yang mengendalikan kelenjar keringat. Stres juga bisa menjadi pemicu. Sementara hiperhidrosis sekunder merupakan gejala dari penyakit tertentu, sehingga diagnosis yang akurat sangat penting agar penanganannya tepat.

MBG dalam Berita 2

Dr Stella menegaskan, keringat berlebih pada penderita hiperhidrosis bukanlah tanda penyakit jantung. Banyak pasien yang khawatir keringat berlebih adalah gejala serangan jantung. Padahal, hiperhidrosis berbeda dengan kondisi medis darurat tersebut.

"Keringat berlebih pada hiperhidrosis bukan disebabkan gangguan jantung, melainkan karena saraf yang terlalu aktif mengendalikan kelenjar keringat,” ujarnya.

Ia menambahkan, masyarakat perlu membedakan gejala hiperhidrosis dengan tanda bahaya medis lain. Jika keringat berlebih disertai nyeri dada, sesak napas, atau pusing hebat, barulah hal itu bisa mengindikasikan kondisi serius yang memerlukan penanganan segera. Namun pada hiperhidrosis, keringat biasanya hanya muncul berlebihan di area tertentu tanpa gejala berbahaya lainnya.

Seiring perkembangan teknologi medis, penderita hiperhidrosis kini memiliki beragam pilihan terapi sesuai tingkat keparahan kondisi. Beberapa di antaranya penggunaan antiperspirant dengan kandungan aluminium klorida, prosedur iontophoresis menggunakan aliran listrik ringan, suntikan botox untuk memblokir sinyal saraf pemicu keringat, konsumsi obat antikolinergik, hingga tindakan operasi berupa Simpatektomi Torakoskopik Endoskopi (ETS).

Operasi ETS dilakukan dengan teknik minimal invasif. Melalui sayatan kecil di dinding dada, dokter memasukkan kamera kecil (torakoskop) untuk menemukan saraf simpatik yang mengendalikan kelenjar keringat, lalu memotong atau menjepitnya.

"Prosedur ini biasanya berlangsung sekitar satu jam dengan masa pemulihan relatif cepat. Pasien umumnya langsung merasakan hasil signifikan, misalnya telapak tangan yang menjadi kering setelah operasi," kata dr Stella.

Meski efektif, operasi ETS berpotensi menimbulkan efek samping berupa compensatory sweating atau keringat kompensasi. Kondisi ini ditandai keluarnya keringat berlebih di bagian tubuh lain, seperti punggung, perut, atau paha. Namun, banyak pasien menilai efek tersebut masih lebih ringan dibandingkan hiperhidrosis yang dialami sebelumnya.

Lebih jauh ia menjelaskan, hidup dengan hiperhidrosis memang bisa sangat mengganggu, tetapi kondisi ini bisa dikelola. Jika keringat berlebihan sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya segera mencari bantuan profesional.

"Diagnosis yang tepat serta rencana terapi yang sesuai akan membantu pasien kembali mengendalikan tubuh dan meningkatkan rasa percaya diri,” tambah dr Stella. (FSY/VOI)

Laporan : FSY
Redaktur : FA Syam





Berita Lainnya