- Home
- Dokter Anda
- Cegah Komplikasi Hipertensi, Dokter Ingatkan Kerusakan Organ Jantung, Ginjal, dan Otak
Jaga Kesehatan Akibat Hipetensi
Cegah Komplikasi Hipertensi, Dokter Ingatkan Kerusakan Organ Jantung, Ginjal, dan Otak
Salah satu hal utama yang membuat penanganan hipertensi sulit adalah karena termasuk silent killer atau penyakit tidak bergejala. (Internet)
RSNEWSROOM – Terus waspada kesehatan. Hipertensi masih menjadi tantangan kesehatan di dunia, termasuk di Indonesia. Salah satu hal utama yang membuat penanganan hipertensi sulit adalah karena termasuk silent killer atau penyakit tidak bergejala.
Pasien sering tidak menyadari telah mengidap hipertensi, yang diam-diam sudah menyebabkan kerusakan pada organ vital seperti jantung, ginjal, otak, dan pembuluh darah. Ini bisa menyebabkan komplikasi hipertensi seperti terjadi stroke, kerusakan ginjal, dan serangan jantung.
Oleh karena itu, penanganan hipertensi yang baik tak hanya dari dokter, tetapi pasien juga memegang peranan utama. Pasien harus bisa melakukan pemantauan mandiri, kepatuhan mengonsumsi obat, dan pencatatan tekanan darah harian menjadi dasar bagi dokter mengevaluasi terapi.
“Dokter hanya dapat menilai kondisi dan menyesuaikan terapi berdasarkan data yang diberikan pasien, mulai dari catatan tekanan darah, kepatuhan obat, hingga keluhan harian,” kata Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal dan Hipertensi, dr. Tunggul D. Situmorang, Sp.PD-KGH, saat temu media di kawasan Sudirman, Jakarta, Kamis, 20 November 2025 lalu.
“Semakin lengkap data tersebut, semakin tepat keputusan klinis yang diambil, data mandiri inilah yang memungkinkan dokter menentukan apakah pasien membutuhkan intensifikasi terapi, pergantian obat, atau perubahan gaya hidup tertentu,” jelasnya.
Untuk mengontrol hipertensi, Dokter Tunggul mengingatkan bahwa konsitensi minum obat oleh penderitanya sangat penting. Obat yang digunakan juga harus ideal yang memenuhi karakteristik berbasis ilmiah.
“Manajemen hipertensi membutuhkan konsistensi, termasuk kepatuhan konsumsi obat sesuai anjuran dokter. Sebab, tidak semua obat anti hipertensi sama. Obat yang ideal harus memenuhi karakteristik berbasis ilmiah, terjangkau dan mudah diakses, dapat ditoleransi baik oleh pasien, serta memiliki bukti manfaat nyata pada populasi yang dituju,” lanjutnya. (FSY/VOI)








