Jegah Sebelum Terlambat

Obesitas Jadi Pintu Masuk Penyakit Kronis, Waspada... Waspada

Dokter Anda Selasa, 30 September 2025 - 21:36 WIB  |    Reporter : FSY   Redaktur : FA Syam  
Obesitas Jadi Pintu Masuk Penyakit Kronis, Waspada... Waspada

Jika diabetes sering dijuluki “ibu dari segala penyakit”, maka obesitas bisa disebut sebagai bahan bakar yang menyalakan masalah pada berbagai organ tubuh. (Internet)

RSNEWSROOM - Obesitas kerap dianggap sekadar persoalan penampilan, padahal kondisi ini adalah pintu masuk menuju berbagai penyakit serius.

Lemak berlebih dalam tubuh bukan hanya menambah beban fisik, tetapi juga menjadi faktor risiko utama munculnya gangguan metabolik yang dapat menurunkan kualitas hidup seseorang.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrin, metabolik, dan diabetes dari Universitas Brawijaya, dr. Rulli Rosandi Sp.PD-KEMD, menegaskan bahwa obesitas ibarat fondasi rapuh yang dapat memicu beragam penyakit kronis.

Iklan PC dalam Pahlawan Guru

"Obesitas ini adalah pintu masuk ke penyakit-penyakit metabolik. Dari awalnya obesitas, muncul penyakit lainnya,” ujarnya dalam sebuah diskusi kesehatan seputar obesitas bersama Novo Nordisk di Jakarta, baru-baru ini. 

Jika diabetes sering dijuluki “ibu dari segala penyakit”, maka obesitas bisa disebut sebagai bahan bakar yang menyalakan masalah pada berbagai organ tubuh. Sebagian besar pasien obesitas, lanjut Rulli, mengalami diabetes yang berkontribusi pada meningkatnya kasus penyakit jantung dan ginjal.

Selain itu, obesitas juga berkaitan dengan dislipidemia atau penumpukan plak kolesterol, hipertensi, hingga sindrom metabolik. Karena itu, pasien obesitas perlu rutin memantau kadar gula darah, tekanan darah, serta kolesterol.

MBG dalam Berita 2

Dampak obesitas tidak berhenti di situ. Gangguan pernapasan seperti sleep apnea, ditandai dengan mendengkur atau kesulitan bernapas saat tidur sering terjadi.

Beban tubuh berlebih juga membuat sendi cepat sakit, tubuh terasa berat, dan napas menjadi pendek. Pada perempuan, obesitas dapat memicu sindrom ovarium polikistik (PCOS), sedangkan pada laki-laki dapat menyebabkan gangguan hormonal seperti penurunan kadar testosteron.

Dari sisi psikologis, penderita obesitas kerap menghadapi stigma sosial dan kurangnya dukungan lingkungan. Kondisi ini memperburuk kesehatan mental, terlebih beberapa obat antidepresan justru dapat menambah berat badan, sehingga lingkaran masalah semakin sulit diputus.

Untuk itu, Rulli menyarankan penderita obesitas berkonsultasi dengan dokter spesialis agar mendapatkan penanganan sesuai kondisi masing-masing. Pada kategori indeks massa tubuh (IMT) rendah hingga sedang, perubahan gaya hidup melalui olahraga dan pola makan sehat biasanya cukup efektif.

Namun, jika IMT sudah di atas 25 atau disertai komplikasi seperti diabetes, intervensi medis dengan obat-obatan bahkan operasi bariatrik dapat menjadi pilihan. Ia menekankan terapi obesitas bersifat individual, tidak bisa disamakan antara satu pasien dengan yang lain.

Saat ini pun perkembangan medis memberikan opsi baru dalam pengelolaan obesitas. Studi global menunjukkan terapi berbasis GLP-1, jika dikombinasikan dengan perubahan gaya hidup, dapat membantu sekitar sepertiga pasien menurunkan berat badan lebih dari 20 persen.

Bagi pasien obesitas dengan riwayat penyakit jantung, terapi ini juga dikaitkan dengan penurunan risiko kardiovaskular hingga 20 persen. Manfaat tersebut dinilai mampu memperbaiki kualitas hidup sekaligus mengurangi risiko kesehatan jangka panjang.

Para ahli menekankan obesitas merupakan penyakit yang perlu ditangani secara medis, bukan sekadar persoalan gaya hidup. Konsultasi dengan dokter diperlukan dalam menentukan terapi yang tepat, termasuk penentuan dosis dan pemantauan secara berkala.

"Penanganan yang tepat tidak hanya membantu menurunkan angka obesitas di Indonesia, tetapi juga menekan jumlah kematian akibat penyakit metabolik serta meringankan beban sistem kesehatan nasional," pungkasnya. (FSY/VOI)

Laporan : FSY
Redaktur : FA Syam





Berita Lainnya