Peduli Kesehatan Tubuh

Jangan Abai Terhadap Nyeri Dada, Ini Tanda dan Cara Mencegah Serangan Jantung

Info Sehat Rabu, 11 Februari 2026 - 20:05 WIB  |    Reporter : Hafith   Redaktur : Fithriady Syam  
Jangan Abai Terhadap Nyeri Dada, Ini Tanda dan Cara Mencegah Serangan Jantung

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Eka Hospital Cibubur, dr. Yislam Aljaidi, menjelaskan serangan jantung terjadi ketika aliran darah menuju otot jantung berkurang drastis atau berhenti akibat sumbatan pada pembuluh darah koroner. (Foto Istimewa)

RSNEWSROOM - Serangan jantung masih menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia dan di Indonesia, sehingga masyarakat perlu waspada serta memahami pentingnya pemeriksaan kesehatan jantung secara rutin.

Kondisi ini kerap datang secara tiba-tiba dan sering kali tidak disadari penderitanya, sehingga penanganan sering terlambat dilakukan.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Eka Hospital Cibubur, dr. Yislam Aljaidi, menjelaskan serangan jantung terjadi ketika aliran darah menuju otot jantung berkurang drastis atau berhenti akibat sumbatan pada pembuluh darah koroner.

Iklan PC dalam Pahlawan Guru

Penyumbatan ini biasanya disebabkan oleh penumpukan plak lemak dan kolesterol yang memicu pembentukan gumpalan darah yang menutup aliran darah ke jantung.

"Jika kondisi ini tidak segera ditangani, otot jantung bisa mengalami kerusakan permanen bahkan menyebabkan kematian," kata Yislam ditemui di Bogor, Rabu 11 Februari.

Risiko kematian akibat penyakit jantung sangat tinggi di Indonesia maupun di seluruh dunia. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa penyakit kardiovaskular, termasuk serangan jantung, menjadi penyebab kematian nomor satu secara global dengan sekitar 17,9 juta jiwa meninggal setiap tahun karena kondisi ini.

MBG dalam Berita 2

Lebih dari empat dari lima kematian akibat penyakit kardiovaskular disebabkan oleh serangan jantung dan stroke. Di Indonesia, penyakit jantung iskemik atau serangan jantung menyumbang persentase kematian yang signifikan selain stroke, menjadi salah satu penyebab utama tingkat kematian nasional.

Selain itu, berdasarkan data Kementerian Kesehatan, penyakit jantung iskemik menyumbang lebih dari 14 persen dari total kematian di Indonesia.

Menurut Yislam, waktu penanganan menjadi faktor krusial saat serangan jantung terjadi. Semakin cepat pasien mendapat pertolongan medis, semakin besar peluang untuk selamat dan meminimalkan kerusakan jantung. Karena itu, masyarakat perlu mengenali gejala yang kerap muncul.

Gejala serangan jantung umumnya ditandai dengan nyeri dada seperti ditekan atau tertindih beban berat, rasa tidak nyaman atau nyeri yang bisa menjalar ke bahu, lengan, punggung, leher hingga rahang, keringat dingin, sesak napas, kelelahan ekstrem, pusing mendadak, mual, atau nyeri di ulu hati.

"Dalam beberapa kasus, nyeri punggung sering disalahartikan sebagai pegal biasa sehingga pasien terlambat mencari pertolongan," paparnya.

Ia menambahkan gejala pada perempuan terkadang tidak khas. Banyak pasien wanita hanya merasakan dada terasa berat, lemas, atau tidak nyaman tanpa nyeri tajam, sehingga keluhan sering diabaikan.

Serangan jantung umumnya dipicu oleh penyakit jantung koroner. Risiko meningkat pada mereka yang berusia di atas 45 tahun untuk laki-laki dan 55 tahun untuk perempuan, perokok, penderita tekanan darah tinggi, kolesterol dan trigliserida tinggi, diabetes, obesitas, serta individu yang jarang berolahraga.

Riwayat keluarga dengan penyakit jantung, pola makan tinggi lemak jenuh, gula, dan garam, serta stres berkepanjangan juga memperbesar kemungkinan terjadinya gangguan jantung.

Meski begitu, banyak faktor risiko tersebut tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Yislam menekankan pentingnya skrining rutin untuk mendeteksi masalah sejak dini, karena kondisi seperti tekanan darah tinggi atau kolesterol tinggi sering kali tidak terasa namun dapat merusak pembuluh darah secara diam-diam.

Beberapa pemeriksaan skrining jantung yang dapat dilakukan antara lain pemeriksaan darah untuk melihat kadar kolesterol dan gula darah, elektrokardiogram atau EKG untuk memantau aktivitas listrik jantung, pemeriksaan dengan treadmill untuk menilai respons jantung saat beraktivitas, echocardiogram atau USG jantung untuk melihat struktur dan fungsi jantung, serta CT scan atau pemeriksaan calcium score guna mengetahui adanya endapan kalsium di pembuluh darah koroner.

Frekuensi pemeriksaan disesuaikan dengan usia dan faktor risiko masing-masing individu. Pada orang sehat, skrining dapat dimulai sejak usia dewasa muda, sedangkan mereka yang memiliki faktor risiko dianjurkan melakukan pemeriksaan lebih rutin.

Yislam mengingatkan bahwa konsultasi dengan dokter jantung penting untuk menentukan jadwal skrining yang tepat. Pencegahan melalui deteksi dini dan pengendalian faktor risiko selalu lebih baik dibandingkan pengobatan setelah serangan terjadi.

Melalui kesadaran mengenali gejala dan disiplin menjalani pemeriksaan rutin, risiko serangan jantung diharapkan dapat diminimalkan sehingga masyarakat dapat menjaga kesehatan jantung dan kualitas hidup lebih baik.(HFS/VOI)

Laporan : Hafith
Redaktur : Fithriady Syam





Berita Lainnya